Sebagian peserta sudah mengeluhkan kebosanan. Sudah lebih sepuluh hari menjelajah, meninggalkan orang-orang tercinta demi sebuah gerakan. Demi sebuah kampanye. Setiap sambutan di sepanjang jalan memberi suntikan semangat.

Terlebih pesanggrahan Kotanopan menyimpan sejarah yang berhubungan dengan pergerakan menjaga kemerdekaan RI. Di teras pesanggrahan, pada 16 Juni 1948 – dalam perjalanan dari Padang ke Parapat Bung Karno berpidato dalam rapat raksasa di Kotanopan.

Aura itulah yang diharapkan memberi suntikan semangat tim jelajah untuk melanjutkan etape kesebelas menuju Lubuksikaping. Berangkat sekitar pukul 07.30 rombongan beriringan meninggalkan rumah yang dibangun sekitar tahun 1938 dan digunakan sebagai mess tentara Belanda saat itu.

Peserta jelajah mengular di jalan utama Kotanopan yang juga merupakan bagian dari jalur utama Medan – Padang bersamaan dengan aktivitas penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian dan perdagangan itu. Sementara teriakan “Haloo…” dari anak-anak sekolah membuat suasana pagi itu menjadi meriah.

Jalan lintas tengah selebar sekitar 6 m itu di beberapa lokasi rusak parah. Berlubang di sana-sini dengan air mengenang hasil dari tumpahan hujan semalam. Namun peserta jelajah dimanjakan oleh kehijauan hutan di perbukitan yang mengelilingi Kotanopan. Hamparan sawah yang mulai menguning menyuratkan optimisme perjalanan hari ini lancar.

1

Elevasi mulai menanjak seiring dengan perjalanan menyusuri pinggir sungai menuju hulu. Puncak elevasi ada di sekitar 800 mdpl untuk kemudian turun sampai di perbatasan Sumatra Utara dan Sunatra Barat. Hanya ada tugu ucapan ‘Selamat Jalan dari Provinsi Sumetra Utara.’ Tak ada tugu ucapan ‘Selamat Datang di Provinsi Sumatra Barat.’

Namun yang sangat terasa adalah kondisi jalanan. Memasuki Sumatra Barat jalan mulus kembali menyambut tim jelajah.

Makan siang kembali cukup sopan kali ini. Awalnya banyak peserta yang tidak mengira saat berhenti di kompleks perkantoran Kecamatan Rao itu adalah saat makan siang. Waktu makan siang belum tiba. Pukul 11.00 saja belum ada. Jarak juga baru sekitar 50 km.

Sisa waktu habis makan siang dimanfaatkan untuk tidur oleh beberapa peserta. Ada yang tidur di pendopo kecamatan beralaskan karton bekas kardus minuman mineral. Ada yang tidur di Puskesmas karena sudah tidak melayani pasien lagi.

Ketika melanjutkan perjalanan lagi, mereka yang tidur sudah dingin badan dan otot-ototnya. Udara mulai panas. Baru enak-enaknya gowes rombongan dibelokkan ke kawasan wisata air panas Rimbo Panti.

Menurut peserta yang besar di Bukittingi, kawasan hutan Rimbo Panti ini dulunya dianggap angker. Mirip Alas Roban di daerah Jawa Tengah. “Padahal banyak penjahatnya saja,” kata peserta tadi.

Selamat Jalan Sumatra Utara

Tanjakan mulai ditemui selepas hutan Rimbo Panti. Pelan tapi pasti kontur beringsut menuju angka yang lebih besar. Rombongan mulai tercerai berai. Yang di depan melesat sementara yang di belakang sudah habis tenaga untuk mengejar dan melawan angin.

Regrouping dilakukan 10 km sebelum penginapan. Di sini rombongan disambut oleh rombongan dari komunitas sepeda lokal. Dalam jeda regrouping itu beberapa peserta curhat soal kerinduan akan keluarga mereka. Bahkan sampai ada yang menangis.

Yah, dapat dimaklumi karena beberapa peserta mungkin baru kali ini pergi selama itu meninggalkan keluarga. Mental benar-benar diuji sementara fisik sudah terkuras habis.

Masih sore rombongan masuk ke Wisma Pasaman Saiyo dan Hotel Hamco. Selepas makan malam sebagian besar peserta langsung masuk kamar masing-masing menyimpan tenaga untuk etape pendakian ke Bukittinggi.

Jozlyn

Work hard, bike harder.

By riding a bicycle, I learn the contours of my country best, since i have to sweat up the hills and coast down them.

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments