Pedalku.com – Empat tentara itu berjongkok di pojok Markas Yon Armed 19/105 Lolak. Mereka mengerumuni tiga kran yang salah satunya mengocorkan air. Di bawahnya ember berisi piring yang habis digunakan makan pagi tim JSMM.

Awalnya saya bingung dengan tiga orang tentara yang jongkok namun hanya diam saja. Tidak membantu. Tak seberapa lama datang satu tentara dengan menggunakan topi rimba. Saya menduga itu atasan mereka karena dia berdiri sambil berbicara seperti memerintah.

Setelah memperhatikan seluruh proses itu, saya baru tahu ternyata masing-masing orang memiliki tugas tertentu. Setelah tentara pertama selesai mencuci, ember dikosongkan dan digeser ke tentara kedua yang membilas, pindah ke tentara ketiga yang mengeringkan, lalu setelah selesai semua proses mencuci itu, tentara keempat membawa ke tempat penyimpanan.

Dalam jelajah sepeda pun ada beberapa komponen yang memiliki tugas masing-masing. Saling estafet tugas untuk kemudian proses jelajah sepeda itu pun mencapai tujuan atau target yang sudah diselesaikan.

Peserta dan panitia JSMM memang bukan tentara. Yang sangat disiplin dan komando atasan-bawahan jelas. Salah sedikit ada hukuman.

Yon Armed 19/105 Lolak

Apa yang bisa dipelajari dari proses mencuci ala tentara tadi?

Etape ketiga dari Lolak ke Boroko penuh rolling maut. Memang tidak tinggi-tinggi elevasinya karena menyusuri pantai. Paling berkisar 200 sampai 300 meter di atas permukaan laut (mdpl). Namun sudut kemiringan cukup besar, antara 30 – 45 derajat. Panjangnya bervariasi dari sekitar 200 m sampai hampir 600 m.

Jika mau roh jelajah sepeda terwujud, yakni kebersamaan, maka masing-masing komponen harus disiplin dengan tugasnya. Road captain dan marshal menjaga irama kayuhan sedemikian rupa sehingga pedalis yang kuat tak merasa lambat, sementara pedalis yang biasa-biasa saja bisa sedikit mempercepat kayuhan.

Agar rombongan tetap menyatu, peserta yang masih belum bisa mengikuti irama kayuhan yang sudah dimodifikasi tadi harus rela didorong atau jika sudah tidak memungkinkan…. dievakuasi.

Masalahnya, ego pedalis berbeda-beda. Ada yang sadar akan kebersamaan, ada yang mementingkan ego. “Saya masih kuat kok.” Atau “Saya mampu kok ngimbangi irama kayuhan,” sambil bergegas mempercepat. Kira-kira itu alasan yang keluar dari mulut mereka.

Bisa dimaklumi sebab para peserta bukanlah piring yang benda mati. Meski ada yang bilang ikut jelajah sepeda itu seperti robot. Sudah diprogram dengan jadwal-jadwal ketat yang tak boleh molor begitu saja.

Kompromi dan tahu diri bisa menjadi solusi agar kebersamaan terus terpupuk. Tanpa perlu diceramahi, seperti etape tiga ini yang dilepas tanpa sambutan dari pejabat setempat. Sekwilda datang namun hanya mengibarkan bendera start saja.

Namun sedikit banyak etape tiga sudah mulai membaurkan kompromi, harga diri, dan kebersamaan. Semoga tugas mencuci yang sederhana namun sangat berarti tadi bisa menjadi inspirasi peserta Jelajah Sepeda  Manado – Makassar.

Jozlyn

Work hard, bike harder.

By riding a bicycle, I learn the contours of my country best, since i have to sweat up the hills and coast down them.

View all posts

Add comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Comments