JSBB: Jelajah Pakai Roadbike? Jangan!

6

pedalku.com – Pedalku sempat memperoleh kabar di beberapa grup chatting muncul pertanyaan yang seragam: jelajah pakai roadbike gimana? Korek sana korek sini, ada sedikit pergeseran antara jelajah sepeda awal dan jelajah sepeda kini. Terutama semenjak ada peserta jelajah dari Kompas Bike. Ini adalah event yang diselenggarakan Kompas di beberapa tempat seperti Bali Bike, Minang Bike, serta Tambore Bike. Di setiap event itu ada penarikan undian tiket jelajah sepeda yang diselenggarakan tak jauh dari evetn tersebut.

Banyak argumentasi bersliweran soal menggunakan roadbike di jelajah sepeda. Yang kontra merujuk ke pakem tak tertulis, bahwa jelajah adalah kebersamaan. Bukan balap-balapan seperti Audax. Karena kebersamaan itu, maka kecepatan dipatok di angka 25 – 30 kpj. Sementara di kecepatan itu roadbike tidak nyaman dikayuh. Nyaman tidak nyaman ini memang subjektif.

“Saya kadang harus mundur ke belakang biar nyaman gowesnya,” kata peserta JSBB yang menggunakan roadbike. Dalam gowes berombongan, memang di belakang perlu kecepatan lebih dibandingkan dengan barisan depan. Sayangnya, yang di belakang itu malah diisi peserta yang kurang “kuat”. Alhasil sering keteteran.

Selain ketidaknyamanan ketika digowes dalam kecepatan rendah, roadbike memiliki ban tapak mungil yang cocoknya hanya di jalan mulus. Padahal jelajah menempuh perjalanan yang jauh. Lintas provinsi yang tak semua jalannya mulus. Sumber pedalku bercerita ketika ikut jelajah sepeda dari Sabang ke Padang. Di Aceh jalannya mulus, namun begitu masuk Sumatra Utara, jalanan ada yang rusak parah.

Begitu juga di JSBB kali ini. Memasuki Kalimantan Timur peserta dihidangkan jalanan rusak. Kerikil lepas dan jalan berlubang di turunan dan tanjakan. Bisa dibayangkan betapa tersiksanya pengguna roadbike di jalur ini. Nanjak perlu sigap mencari jalan yang mulus sambil mengeluarkan tenaga untuk mengayuh, sementara turun perlu waspada menghindari lubang sembari mengeluarkan tenaga untuk mengerem.

Jadi, pakai sepeda apa yang tepat untuk jelajah? “Ya, sepeda turinglah,” komentar pedalis yang pernah merasakan Kompas Jelajah Sepeda. “Apalagi pakai dropbar,” imbuhnya.

Jelajah (kabarnya) tinggal menyisakan satu rute lagi, yakni Papua. Buat pedalis yang nanti ikut di sana, pedalku kasih saran jangan pakai roadbike.

(foto: Kompas/Iwan Setiyawan)

About Author

Work hard, bike harder. By riding a bicycle, I learn the contours of my country best, since i have to sweat up the hills and coast down them.

6 Comments

  1. Sepeda itu personifikasi dan identitas. Agak susah juga melarang2. Kecuali kalo panitia menyediakan dan memaksa. Kalo soal medan bisa disiasati. Kebersamaan? Ya itu yg sudah mulai memudar. Kalo mau ya dipaksa lagi dengan sepeda sama.

Komentar Kamu

Skip to toolbar