Ketika Penggowes Berselingkuh Lari

0

Pedalku.com – Di antara ingar-bingar BII Maybank Bali Marathon (BMBM) 2015, yang digelar Minggu (30/5) lalu ada pemandangan menarik. Sejumlah peserta ternyata adalah mereka yang selama ini penggemar olah raga sepeda alias pedalis atau goweser. Saling sapa-tawa dan foto bareng pun terjadi di antara mereka. “Ha.. ha.. ketemu di sini kita,” kata seorang pesepeda dari Yogyakarta. Kaosnya yang berwarna oranye menyala bertuliskan Playon Yogya, sebuah komunitas lari di Yogyakarta.

Yup, sejalan dengan semakin populernya olah raga lari, sejumlah pesepeda pun menekuni olah raga yang “cuma bermodal” kaki dan sepatu itu. Tentu saja, karena otot yang digunakan saat bersepeda berbeda dengan olah berlarl, kedua jenis olah raga tersebut juga memerlukan latihan yang berbeda. Silakan bertanya kepada Pak Google mengenai apa perbedaan olah raga lari dan bersepeda serta manfaatnya buat tubuh mereka yang menjalaninya.

Pedalku mencoba mencari tahu alasan yang lebih “pribadi” dari obrolan bersama sejumlah pedalis yang berselingkuh menjadi pelari.

Lari enggak ribet

“Tinggal pake sepatu dan kolor, lari deh!” Berbeda dengan bersepeda, lari dianggap olah raga yang lebih sederhana. Untuk menjalankan olah raga bersepeda, orang harus perlu usaha lebih keras: mengeluarkan sepeda, mengecek rem, ban, dan sebagainya.

Bersepeda adalah olah raga mahal

“Bukan soal sepedanya, tetapi yang penting adalah sepedaanya,”. Jargonnya mungkin demikian. Tetapi kenyataannya, memiliki sepeda yang mahal dan bagus adalah idaman setiap orang. Jika ada duit, kenapa enggak? Jadinya, “sepedaannya enggak penting, yang penting sepedanya”

Untuk hal ini tidak sepenuhnya benar. Sepatu lari dan aksesorinya saat ini juga banyak yang berharga mahal. Banyak di antara pelari yang berangan-angan memiliki sepatu lari berharga hingga jutaan rupiah atau celana compression yang mirip legging itu seharga Rp 1-2 juta juga.

Sama seperti sepeda, banyak yang harga sesuai kantong. Harga kolor pun ada yang puluhan ribu rupiah dan sepatu Rp 200-300 ribu rupiahan. Tetapi lihat di arena race, sepatu dan aksesoris lari mahal sepertinya menjadi bagian dari para pelari. Soal lari hanya lebih banyak foto-foto atau selfie, itu mah soal lain.

Lari lebih cepat keringetan

Orang lebih suka berlari karena cukup dengan waktu 40-60 menit saja, dengan pace 7 misalnya, keringat sudah mengucur deras. Kalori terbakar dipastikan lebih banyak juga.

Bersepeda, terutama bagi para weekend warrior, memerlukan waktu lebih dari tiga jam karena jauhnya jarak yang ditempuh. Tidak jarang orang bersepeda hingga pulang sore hari bahkan malam hari.

“Lari lebih cepat juga buat nurunin berat badan,” ujar seorang pesepeda. Seorang pedalis yang rutin bersepeda bertahan dengan berat 70 kilogram. Setelah rutin berlari cowok dengan tinggi badan 165 centimeter tersebut kini lebih ramping dengan berat stabil di 67 kilogram.

Apalagi bersepeda akan terasa lebih seru jika disertai dengan “wisata kuliner” seperti yang selama ini dilakukan. “Ha ha… sepedaannya enggak seberapa, makannya banyak banget,” kata seorang pedalis yang setiap akhir pekan rajin berburu kuliner di pinggiran Jakarta.

Olah raga bersepeda maupun lari merupakan olah raga yang sama-sama asyik dan menyenangkan. Jadi tidak pada tempatnya, mempertentangkan keduanya.

Lagi pula sepertinya, lari dan sepeda seperti bersaudara dekat ya? Triathlon kan memperlombakan gabungan tiga jenis olah raga tersebut: lari, bersepeda dan renang. Beberapa di antara rekan kini sudah “naik kelas” selain berlari dan bersepeda mulai berlatih renang dan mencoba-coba ajang triathlon yang juga sepertinya mulai marak. Jadi sekarang, yok berolah raga ! Sepeda, lari, renang atau apa saja yang penting happy !

 

About Author

Komentar Kamu

Skip to toolbar