Pataga Kehilangan Sosok Terbaiknya: Andi Nursaiful

0

Pedalku.com – Pataga Indonesia kehilangan sosok salah seorang anggota dan atlet terbaiknya, Andi Nursaiful (Ipul). Ipul meninggal dunia setelah terjatuh dan tidak sadarkan diri dalam gelaran Bromo-Tengger-Semeru Ultra Run 100 di Jawa Timur, Sabtu (4/111/2017) lalu. Ipul jatuh di kilometer 18 dari rencana lomba 70 km yang dia ikuti.

Dalam kaitan itu, organisasi pendaki gunung dan jelajah alam Pataga Indonesia menegaskan, almarhum Andi Nursaiful adalah petualang dan atlet profesional di dunia alam bebas Indonesia. “Penegasan ini sekaligus membantah kesan di sejumlah media massa dan media sosial bahwa Ipul, sapaan akrabnya, adalah seorang amatir yang ikut-ikutan lomba lari lintas alam,” demikian disampaikan Dede SR, Sekjen Pataga Indonesia dalam siaran persnya yang diterima pedalku.com, Selasa (7/11).

Menurut Dede SR,  rekam jejak ipul sebagai pegiat alam bebas dikenal tidak hanya sejak SMA dan di internal Pataga Indonesia saja, melainkan di kalangan pegiat alam bebas dan petualangan di Indonesia. “Di era 1990, Ipul adalah pemanjat tebing dan atlet panjat dinding yang malang-melintang di berbagai kompetisi panjat dinding tingkat nasional. Ipul sudah bergiat di alam bebas lebih dari 30 tahun, sejak SMA. Dia bukan pegiat kemarin sore,” ujar Dede, rekan seangkatan Ipul di Pataga Indonesia yang juga atlet panjat dinding era 1990-an.

Meski berprofesi sebagai jurnalis sejak pertengahan 1990-an, Ipul tetap aktif mendaki gunung dan berbagai kegitan alam bebas lain. Di akhir 2016, Ipul tercatat menjejak puncak Gunung Semeru (tertinggi ketiga di Indonesia) dan puncak Gunung Kerinci (tertinggi di Indonesia) dalam rentang waktu seminggu.

Ketika olahraga trail run marak di Indonesia beberapa tahun terakhir, Ipul menggeluti cabang ini dan punya obsesi berlari mengikuti berbagai lomba lari di semua pulau di Indonesia hingga 14.000 km tanpa batasan waktu. Dari target 14.000 km itu, dalam setahun terakhir Ipul sudah mencatat jarak tempuh hampir 1.500 km. Tahun 2017 ini, ipul menjalani berbagai ultra run yang berbau pendakian, antara lain Ciremai ultra run, Guntur ultra run. Itu belum termasuk beberapa kali berlari ke puncak Gunung Gede-Pangrango. Tak heran ruang tamu rumahnya di Depok dihiasi ratusan medali sebagai finisher di berbagai lomba lari.

Secara fisik Ipul pun terhitung bugar di usianya yang 48 tahun. Bisa dibilang setiap akhir pekan di 2017 dia menjalani berbagai kegiatan lari, dari 5 km sampai 50 km. Bulan Juli 2017 dia menyelesaikan dua ultra run 42,195 km di Sentul dan Ujung Kulon. Sepanjang Oktober 2017, dia mengikuti dua lomba half marathon (21 km) dan Bandung Ultra Run 50 km. Di bulan November, Ipul mengikuti Jakarta Run 42,195 km dan BTS Ultra Run 70 km.

Hingga awal 2018, aktivitas berlari Ipul terbilang padat. Pekan depan, seharusnya Ipul mengikuti Borobudur Run dan pada Desember mendatang Ipul diundang oleh Gubernur NTB Tuan Guru Bajang untuk mengikuti Rinjani Trail Run. Di berbagai ultra run yang diikuti, Ipul masuk kategori master. “Ipul juga tercatat sebagai instruktur utama dalam Sekolah Jelajah Alam (SJA) yang akan dibuat oleh Pataga Indonesia Desember nanti,” ujar Dwi Astuti Sunardi (Wiwi), Ketua Umum Pataga Indonesia.

Terkait meninggalnya Ipul, Wiwi—pendaki perempuan yang beberapa kali mengharumkan nama Indonesia di berbagai puncak gunung di Himalaya, mengucapkan terima kasih kepada Panitia BTS Ultra Run 100, komunitas pendaki di Jawa Timur, Angkasa Pura, Lion Air Group, dan media cetak serta elektronik atas segala bantuan sejak evakuasi hingga pemakaman Ipul. (*)

Share.

About Author

Komentar Kamu

Skip to toolbar