Merasakan Sensasi Pembalap Pro dalam Ajang Grand Fondo

0

Pedalku.com – Dunia sepeda jalan raya (roadbike) mulai menggeliat belakangan ini. Setelah era keemasan sepeda gunung (MTB), jejalanan di Jakarta pada Sabtu atau Minggu pagi dibanjiri iring-iringan sepeda jalan raya.

Beberapa ajang lomba sepeda jalan raya pun banyak digelar di beberapa kota. Bahkan jaraknya berdekatan. Seperti Gran Fondo New York (GFNY) Lombok 2017 yang digelar selang seminggu setelah Mandiri Gran Fondo Jawa Pos Tondano 2017.

Antusiasme peserta pun bergairah. Bahkan ada yang seperti tak kenal lelah mengikuti kedua event itu. Seperti yang dilakukan oleh Iwan Budiono, pedalis asal Jakarta. Tahun lalu bahkan ia juga menjajal GFNY Lombok.

“Minggu depan ikut Audax Yogya,” katanya tanpa terlihat kelelahan di wajahnya sehabis finish di GFNY Lombok 2017. Padahal seminggu sebelumnya ikut Mandiri Gran Fondo Jawa Pos Tondano 2017 berjarak 166 km.

Pedalku bertemu dengan Iwan Budiono di area refreshment setelah finish GFNY Lombok 2017. Kami finish terpaut sekitar 30 menit, dengan posisi Iwan di depan.

Bersama Qhubeka, Dimension Data Ingin Mengubah Kehidupan Melalui Sepeda

Meski sama-sama menggeber sepeda jalan raya, namun ada perbedaan antara Audax dan Gran Fondo. Dalam Audax, peserta hanya dibekali jalur dan beberapa titik check point. Sterilisasi jalur tidak ada sehingga harus berpandai-pandai untuk mencari ruang jika jalanan ramai.

Nah, di ajang Gran Fondo jalanan steril dan ada pengawalan jika bisa bergabung dengan barisan depan. Di setiap persimpangan selalu ada polisi yang akan menghentikan kendaraan yang akan masuk persimpangan sehingga peserta tak perlu mengurangi laju sepedanya.

“Kami mengerahkan sekitar seribu polisi untuk menjaga keamanan dan kenyamanan peserta,” kata Kapolda NTB dalam sambutannya sebelum pelepasan peserta GFNY Lombok 2017 di Mangsit, Lombok Barat.

Selain jalan steril, juga disediakan aid station yang melimpah. Ada air mineral, isotonik, buah-buahan (pisang dan semangka), dan makanan ringan semacam kue. Juga ada ambulans yang mobile. Hilir mudik sepanjang rute.

Hanya saja, karena ada upaya sterilisasi jalan, maka diberlakukan cut off time (CoT). Akan ada mobil penyapu (end of race car) yang akan mengangkut peserta yang kesalip mobil ini. Jika tidak mau diangkut maka peserta itu sudah tidak menjadi tanggung jawab panitia dan waktunya tidak diperhitungkan meski finish.

Dalam GFNY Lombok 2017 ada dua kategori, Long Distance (160 km) dan Medium Fondo (80 km). Sampai sekitar km 50 kedua kategori itu jalurnya sama, yakni dari Mangsit, Mataram, lalu mendaki Pusuk Pass dan turun sampai Tanjung. Yang Medium putar balik sementara yang Long Distance lanjut terus menyusuri pinggiran pantai utara Pulau Lombok dan putar balik di Anyar pada km 94.

Untuk jarak Long Distance (160 km) ada delapan aid station, sementara yang medium distance ada empat.

long course gfny lombok 2017

Long Course GFNY Lombok 2017

medium course gfny lombok 2017

Medium Course GFNY Lombok 2017

Titik tertinggi dari kedua kategori adalah Pusuk Pass dengan ketinggian 332 mdpl. Di kawasan titik tertinggi itu peserta disuguhi oleh ratusan monyet di sepanjang jalan. Namun perlu berhati-hati saat turun, sebab ada kejadian seorang peserta menabrak monyet yang menyeberang saat menikmati turunan dari puncak Pusuk Pass. Akibatnya terjatuh dan lecet-lecet di badan. RD bermasalah sehingga peserta itu hanya bisa memainkan gir depan saja.

Selain Pusuk Pass, tantangan GFNY Lombok 2017 ini adalah angin dan cuaca panas serta rolling yang bervariasi. Pada long distance, sewaktu menyusuri pantai utara sampai putar balik sangat jarang menemui pohon rindang.

Sementara saat menyusuri persawahan, dorongan angin dari samping sangat terasa sekali. Pedalku merasakan sendiri sepedanya bergeser ke kiri menuju bahu jalan saat berada di km 60-an menuju ke titik putaran balik.

Rute menyusuri pantai utara ini relatif datar. Kalaupun ada rolling tidak begitu menyiksa. Baru pada sekitar 24 km terakhir rollingnya menggila. Namun terbayar dengan keindahan pantai dari ketinggian. Di sinilah peserta akan menjumpai dua bukit yang menjadi objek wisata: Bukit Malaka dan Bukit Malimbu. Kebetulan di kedua bukit itu ada aid station sehingga bisa beristirahat sambil menikmati pemandangan.

Tentu bagi mereka yang termasuk kelompok hore, tempat itu menjadi tempat istirahat yang tak boleh dilewatkan. Bagi pembalap beneran atau pembalap serius, tentu saja pantang berhenti. Yang dikejar adalah catatan waktu.

Pedalku sendiri sempat berpapasan dengan peleton pertama yang dikawal oleh mobil polisi dan mobil dengan pelantang yang mengumandangkan lagu-lagu perjuangan di sekitar km 80. Dalam artian, tertinggal lebih dari 20 km.

Dan memang begitu adanya, rombonan terdepan ini finish dalam waktu empat jam sekian, sementara pedalku enam jam lebih mendekat ke tujuh jam hehe …

Sebagai sebuah ajang adu kecepatan, Gran Fondo memang sangat tepat. Polisi begitu tanggap ketika kita melintas sementara jalanan macet. Seperti yang terjadi di sekitar dermaga Pemenang yang menjadi salah satu titik menuju ke tiga gili (Meno, Air, Terawangan), pedalku yang melintas di perempatan yang macet itu tanpa waswas bisa menggenjot sepenuh hati (karena tenaga sudah habis karena di titik itu odometer sudah menunjuk di angka 120-an km).

Begitu juga ketika terjadi kemacetan di Jalan Raya Mataram – Tanjung, ketika pedalku mengambil jalan sisi kanan, beberapa petugas polisi langsung mengamankan jalur. Duh, serasa pembalap pro beneran. Tindakan ini langsung menjadi pendorong kayuhan yang meski terganggu oleh kram menjadi cepat juga laju Polygon Strattos 7.

Akhirnya, begitu menuruni jalan tak jauh dari Pantai Klui, Senggigi, segala penat pantat dan kram di kedua kaki itu menjadi hilang. Beberapa ratus meter di depan titik finish terlihat.

Enam jam empat puluh sekian menit menjadi catatan waktu pedalku. Sebagai bagian dari Charity Bike Rides GFNY Lombok 2017, maka catatan waktu yang berada di bawah COT (8,5 jam untuk Long Distance) akan dikonversi menjadi dua sepeda yang akan disumbangkan ke anak-anak di Afrika Selatan melalui lembaga Qhubeka. (Susanta Agus)

Lewat GFNY, Dimension Data Indonesia Menyumbangkan Sepeda ke Anak-anak Afrika

Share.

About Author

Tertarik untuk berbagi cerita mengenai keindahan negeri kita? Jangan segan untuk berbagi dengan yang lain. Kirimkan saja artikelnya ke [email protected]

Komentar Kamu

Skip to toolbar